SETETES PILIHAN
Prang!
Sebuah piring terjatuh dari tangan Arini.
Matanya agak mengantuk malam itu, sadar bahwa ia memecahkan piring, matanya tiba-tiba saja melek.
Arini : “Ah! Ibu pasti marah, deh! Aduh! Gawat! Gawat!”
( membersihkan pecahan piring yang berhamburan kemana-mana di lantai porselen abu-abu)
Ibu : “Arini? Kau tidak apa-apa?”
(Sang ibu yang cemas berjalan menuju dapur, kaget melihat anaknya panik memungut pecahan beling)
Arini tersentak kaget.
Arini: “A… anu…. Itu….. pi…. Piringnya…. Terselip…. Airi tadi mengantuk, Bu…”
(Airi berdiri, kepalanya tertunduk lemas, tak berani memandang wajah ibunya. Di kedua tangannya di penuhi pecahan piring yang cukup besar)
Ekpresi ibu awalnya hendak murka, namun mengingat satu hal, wajah beliau tiba-tiba saja melunak.
Ibu : “Sudah… tidak apa-apa…. Airi pasti capek… ini sudah pukul Sembilan malam, Airi pulang dari les sejam lalu, kan? Tidak apa-apa… ibu tidak marah…. Airi istirahat saja. Biar ibu yang bereskan semua ini. Ya?”
(tersenyum)
Airi menggeleng cepat-cepat.
Airi : “Tanggung, Bu! Airi bereskan saja semua! Lagian, Airi sudah tidak mengantuk lagi, kok!”
(senyum manis)
Kening ibu mengkerut.
Ibu : “Betul?”
Airi hanya mengangguk.
Ibu : “Baiklah…. Sudah itu istirahat, ya! Ibu selesaikan pesanan Bu wina.”
(mengacak-ngacak rambut Airi)
Sebelum Ibu Airi kembali ke ruang kerjan tempatnya menjahit, Airi berkata.
Airi : “Ibu!”
Ibu : “Ya?” (berbalik kearah Airi sembari tersenyum)
Airi : “Terima kasih untuk tidak memarahi Airi, Bu…”
(Airi lagi-lagi tersenyum)
Ibu mengangguk pelan. Dan beliaupun kembali ke kerjaannya yang terhenti ditengah jalan tadi.
Airi menghela napas sejenak. Memandang sedih punggung Ibunya yang semakin menjauh.
Airi : “Ibu…”
(murung dan meneteskan airmata)
Airi mengetahui satu hal…
Ibunya menderita penyakit langka…
Entah apa itu… yang jelas kata dokter, penyakit itu baru ada di dunia medis. Dan… yang paling membuat Airi hampir depresi, tak ada cara apapun untuk menyembuhkan penyakit ibunya.
Walaupun terlihat sehat-sehat saja, namun Jantung dan paru-paru ibunya mulai memburuk. Makanya sang ibu kadang terbatuk-batuk. Warna matanya yang dulu hitam kelam kini berubah warna menjadi biru pucat. Memang aneh. Sangat aneh. Bahkan, kadang di malam hari, ketika jutaan pasang mata terlelap, Ibu Arini terbangun karena rasa sakit yang menyerang sekujur tubuhnya. Rasa sakit seperti tertusuk ribuan jarum secara bersamaan dan ketika hal itu berhenti, beliau tak mampu merasakan kaki dan tangannya selama beberapa menit.
Arini yang tak mampu berbuat apa-apa hanya bisa menangis tersedu-sedu di kamarnya tanpa sepengetahuan orang lain. Meski keluarganya mengalami hal yang pahit, Arini berusaha untuk tetap terlihat ceria dan berpura-pura tak terjadi apa-apa.
***
Pagi itu Arini berpakaian lengkap putih abu-abu, dia duduk di meja makan yang cukup besar bersama adiknya, Bayu. Raut wajah Arini terlihat muram.
Ibu : “ Arini kapan UAN-nya?”
(ibu meletakkan nasi goreng di depan Arini)
Arini : “Tiga minggu lagi, Bu.”
(memperhatikan Bayu yang membaca komik Black Butler dengan serius)
Ibu : “Wuah… Arini yang semangat, ya!”
(duduk di kursi dekat Bayu, tersenyum lembut sambil menuang air putih ke gelas Airi)
Arini : “Makasih, ya, Bu…”
(suara serak)
Ibu : (terkejut)
Bayu : (menatap kakak, pandangan matanya hampa, berjalan menuju dapur)
Ibu : “Lho? Kenapa, Arini?”
Arini : “Ibu…” (meneteskan airmata)
Ibu : “Lho? Kenapa nangis?”
(menghapus airmata di pipi Arini)
Arini : “Ibu… tidak apa-apa? Semalam… Arini dengar…”
(terdiam tiba-tiba, Bayu berdiri dari kursi, tampak tak mau mendengar percakapan itu, langkah kakinya menuju dapur.)
Ibu melihat Bayu sekilas, lalu tersenyum pada Arini.
Ibu : “Ibu semalam bernyanyi… tidak apa-apa, kok…”
(mengelus pipi Arini)
Arini : “kenapa, sih, ibu selalu memperlakukanku seperti anak kecil? Arini sudah hampir lulus SMA, Bu!”(cemberut) “Ibu semalam kesakitan lagi, kan? Arini temani Ibu ke Rumah sakit, ya?” (ngotot)
Ibu : “Aduh…. Arini…” (terkekeh)
Arini : “Kok ketawa? Ibu ini kenapa, sih?” (kesal)
Ibu : (menghela napas) “Arini tidak usah mencemaskan, Ibu….. Lihat! Ibu baik-baik saja, kan?”
Arini : (cemberut) “ugh….. Arini pamit, Bu!” (mencium tangan ibu) “Assalamu Alaikum!”
Ibu : “Walaikum salam…”
Bayu : “Ah! Kakak! Tunggu!” (berlari keluar dapur) “Bayu, berangkat, Bu! Assalamu alaikum! (mencium kening ibunya)
Ibu : “Hati-hati!” (melambaikan tangan dari meja makan)
Di jalan menuju sekolah, Bayu mencuri-curi pandang kearah kakaknya.
Arini : “Kenapa memandangku seperti itu?” (merasa kesal)
Bayu : (terkejut, kemudian tertunduk) “Apa keadaan ibu akan baik-baik saja?”
Arini : (murung) “Kau, kan jenius…. Harusnya lebih tahu…. Sudahlah…Kita pikirkan nanti saja. Ya?” (tersenyum kearah Bayu, namun terlihat sedih)
Bayu : “Kakak…” (berenti berjalan, memandang kakaknya yang berjalan semakin jauh di depan)
Airi : “Lho? Kok, berhenti? Ayo!” (berbalik kearah Bayu sembari melambaikan tangan)
Bayu : “Iya…” (mengangguk dan berlari-lari kecil kearah Arini)
***
Di kantin saat istirahat.
Mira : “Jes… kenapa, ya? Kok Si Arini kelihatan murung semenjak bulan lalu?” (bertopang dagu di meja, menatap bakso di depannya)
Lola : “Iya… Padahal…. Sebelumnya, ketika orang tuanya bercerai, dia sama sekali tak terlihat sedih… apa dia baru merasakannya sekarang? Kehilangan sosok ayah?”
Jesi : “Hah… Ayahnya suka menyiksa, sich… walaupun mereka kaya, siapa yang bahagia kalau begitu? Kudengar, Arini dan ibunya menerima kekayaan 50% dari harta yang hampir satu trilyun. Tapi, kenapa hidup Arini sekarang sulit, ya? Sampai harus kerja sambilan di toko kue dekat rumah Pak Bejo? Aneh…”
Mira : “Iya…. Sampai-sampai dia jarang main dengan kita…”
Semua diam.
Teng teng teng!!
Bunyi bel masuk berbunyi. Pertanda pelajaran berikutnya akan di mulai.
Jei : “Ayo, masuk kelas! (berdiri dari kursi, diikuti Mira dan Lola.)
***
Di rumah.
Kring kring kring!
Telepn rumah berbunyi. Ibu cepat-cepat mengangkatnya.
Ibu : “Assalamu alaikum?”
Perawat : “Walaikum salam. Dengan Ibu Miranda?”
Ibu : “Iya. Betul.”
Perawat : “Ini dengan perawat Dokter Stephen. Beliau meminta Ibu datang ke Rumah sakit sekarang juga. Ada hal penting yang ingin di bicarakan dengan Ibu.”
Ibu : “Oh… begitu…” (tersenyum hampa)
Perawat : “Baiklah kalau begitu, Bu. Terima kasih. Selamat Siang. Assalamu alaikum.”
Ibu : “Walaikum salam” (menutup telepon)
***
Di rumah sakit.
Dokter Stephen : “Bu Miranda… saya harap Anda tidak terkejut dengan hasil pemeriksaan terbaru kami…” (menyerahkan sebuah amplop besar warna coklat)
Ibu : “Apa hasilnya semakin buruk, Dok?” (menerima amplop dengan raut wajah pucat)
Dokter Stephen : “Begini, Bu…Saya putuskan untuk jujur pada Ibu… kasus ibu… tidak ada yang sama di dunia… seperti yang dulu saya katakan… ini semacam virus yang berkembang sendiri di dalam tubuh inangnya, namun anehnya virus ini hanya menyukai inang pertama yang di injeksinya…. Dengan kata lain, virus ini jenis yang abnormal dari virus-virus yang lainnya. Kami juga berusaha untuk mencari sumber asalnya dengan sampel darah Ibu. Sayangnya, hasilnya nihil, setiap di teliti, virusnya mati dalam hitungan detik. Seperti tak mampu berpisah dari inangnya. Mungkin darah Ibu adalah darah special makanan mereka. Terbukti sumsum tulang belakang Ibu, tidak mengalami kerusakan. Organ-organ dalam yang membutuhkan darahlah yang menjadi targetnya. Ini diluar kemampuan kami. Ibu beruntung virus ini tak menyebar ke anggota kelurga lainnya. Maaf saya berkata seperti ini….” (terdiam)
Ibu : (tersenyum pahit) “Begitu… pasti karena kejadian setahun lalu…”
Dokter Stephen : “Kejadian… setahun lalu?” (mengeryitkan kening)
Ibu : (mengangguk lemah, tak memandang wajah sang dokter)
“Dulu… sebelum saya menjadi tukang jahit… saya memiliki pekerjaan sebagai pemimpin suatu organisasi pengembang dan peneliti virus di kota Bandung.”
Dokter Stephen : “Pengembang…. Dan… peneliti… virus…?” (terkesima)
Ibu : (mengangguk)
“Awalnya… kami berhasil menemukan vaksin HIV…. Namun… lemah terhadap oksidasi udara luar… sulit sekali saat itu… kami memutar otak untuk menangkal terjadinya oksidasi vaksin itu, namun gagal. Sebulan berjalan, kami berhasil menangkalnya, tapi ada saja yang terjadi. Vaksin itu melahap tubuh si penderita HIV sampai hanya tersisa tulang belulang. Kejam memang…. Namun… kami tak menyangka hal itu… (menatap sang dokter dengan mata nanar) “Kami hampir putus asa… malam itu… aku lembur untuk meneliti lebih jauh…. Aku dapat… aku dapat serum yang paling ampuh dari hanya sekedar vaksin…” (terkekeh seperti orang gila)
Dokter Stephen : “Lalu?”
Ibu : “Lalu…. Aku menggunakan darahku untuk dijadikan sampel… tak kusangka…. Aku yang bertipe darah Bombay…. Bisa menghasilkan serum yang sangat manjur. Virus HIV yang baru terkena setetes saja, langsung mengering. Hilang tak berbekas. Menakjubkan, bukan? (menatap sang dokter dengan mata memerah)
Dokter Stepehen : “Ya…. Menakjubkan sekali… lalu apa yang terjadi? Kenapa serum itu tak dipublikasikan?”
Ibu : “Seminggu setelah kejadian itu… aku tak memberitahu siapapun dengan apa yang aku temukan. Aku ingin lebih jauh mengetahui dampaknya. Tiap malam aku lembur hanya untuk mengambil darahku sendiri dan kujadikan serum percobaan…. Dipercobaan ke-23… aku melihat dampak lain ketika menyuntikkannya pada kelinci percobaan kami…. Manusia, tentu saja… (tersenyum kecut) “Tubuhnya bergetar hebat, padahal awalnya hanya sedikit pusing. Dia mati… tentu saja… akhirnya… aku tak ingin menggunakan kelinci percobaan lagi… ilegal, bukan?” (tertunduk)
Dokter Stephen : “Ya…. Kasian sekali orang itu…. aku tak menyangka… lanjut….”
Ibu : “Aku yang notabene seorang ilmuwan saat itu, pasti memerlukan kelinci percobaan. Karena tak ingin orang lain jadi korban, aku menyuntikkan virus HIV ke tubuhku sendiri. Aku terinfeksi…”
Dokter Stephen : “Tapi, anda tak mengidap HIV? Bagaimana mungkin?” (terheran-heran)
Ibu : “Aku berhasil menciptakan serum tanpa efek samping. Aku menyimpan darahku dengan ukuran liter yang cukup tak masuk akal di pendingin. Beruntung aku adalah kepala peneliti, jadi, memiliki hak yang besar di sana. Tubuhku pun sampai kurus sekali… aku sudah menyiapkannya jauh-jauh hari sebelum menyuntikkan virus laknat itu.” (sedih)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar