JADILAH PENDAMPINGKU, BODOH!
Part 01
“Tito! Sudah kubilang, kan! Pungut sampahnya yang bener, dong!” Riku menceramahi teman sekelasnya yang entah keberapa kali hari itu.
“Malas, ah! Dipungut juga bakal ada lagi! Capek, deh!” ujarnya cuek, matanya bergerak membaca huruf-huruf kurus di depannya,judul bacaannya “Alien menampakkan diri di Bandung”, sedang mulutnya penuh dengan kripik kentang.
Di jam ke-2 tadi kelas lagi ramai banget, maklum guru yang mengajar pada jam ke 3 lagi izin ke luar kota, alhasil kelas menjadi kotor dan berantakan banget. Para sebagian penghuninya sudah melarikan diri kekantin. Lari dari tanggung jawab, tuh! Nggak baik!
“Ugh! Tito! Kau tahu, kan, ini sudah pelajaran ke-5! Sejarah! Sejarah, Tito! Pak Ustman nggak bakalan masuk kalau kelas nggak bersih!” bentak Riku melotot, berjalan menuju kearah Tito dan merampas buku bacaan milik Tito dengan kasarnya.
Sret!
“Ngapain, sih! Ganggu banget, tahu!” kening Tito berkerut.
“Wajahmu yang ganggu banget!” balas Riku.
“berisik! Memang kenapa kalau Pak Ustman nggak masuk? Kamu ini, bukan asli Indonesia juga! Aneh banget peduli ama sejarah bangsa orang lain!” Tito berdiri di depan Riku, sehingga Riku hanya setinggi bahu Tito.
“Tito! Kau itu rasis banget, bego! Ngggak berperasaan banget! Walaupun aku ini asli keturunan Jepang murni, tapi aku lahir dan besar di sini! Nggak sepertimu, ngakunya asli Indonesia, tapi nggak tau sejarah bangsa sendiri! Di tanya soal Bung karno, malah balik nanya siapa Bung Karno itu! suka ikut-ikutan gaya luar negeri yang nggak jelas seperti ini lagi!” Riku memandang Tito dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Gaya Tito ke sekolah memang agak mencolok, beda sekali dengan para murid cowok lainnya. Rambutnya spikey warna merah manyala, gaya harajuku banget! Pakaiannya juga memang terlihat nggak rapi, namun sanggup membuat cewek-cewek keteteran gara-gara penampilannya yang memikat. Bagi, Riku sama sekali biasa aja, toh dia punya sepupu anak band di jepang sana bergaya visual kei abis! Dan lagi, teman-teman sepupunya juga sering datang ke Indonesia sekedar main. Nggak ada tuh, rasa suka apalagi yang namanya nge-fans, padahal kalau lihat berita, personil band yang di usung sepupunya itu hampir mendunia. Gaya Tito ini sempat membuat gaduh sekolah saking menentang kepala sekolah yang melarangnya. Apa di kata? Sang kepala sekolah pasrah aja, kalau mengeluarkan Tito, maka sekolah itu akan kehilangan murid paling jenius di negeri ini. Tito juara 1 lomba sains dan matematika internasioal, loh!
‘Keterlaluan banget mencoloknya! Manusia bukan, sih?’
Kalimat itu sering bergema di pikiran Riku tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Tito yang begitu berlebihan.
Ini berbanding terbalik dengan penampilan Riku yang biasa saja, nggak ikut-ikutan bergaya ala Jepang-jepangan. Dia juga tak sepandai Tito, kecuali pada mata pelajaran sejarah. Tito angkat tangan, deh! Penampilan riku amat sederhana, rambut panjang hitam sebahu nan lurus, kulitnya putih seperti pualam, matanya juga agak besar dan lentik, yah… cewek-cewek Jepang pada umumnya-lah! Nggak cantik banget, juga nggak jelek banget! Dia agak mirip dengan penyanyi cewek Jepang bernama Yui. Hanya saja, Riku bermata minus.
Benar-benar sifat dan perilaku yang berbeda!
“Biarin! Bosan berdebat dengan nenek-nenek ahli sejarah!” kakinya melangkah menuju bangku Wina, gadis cantik di kelasnya.
Riku tertegun melihat hal itu. mukanya tiba-tiba mengkerut sebal.
“Tito jelek!” umpatnya, dengan amarah meledak-ledak ia memunguti sampah-sampah yang berserakan sendirian. Dasar Tito pemalas, setiap piket ada saja alasannya untuk tidak melaksanakan tugasnya.
Mereka berdua adalah pasangan adu mulut terhebat di kelas, andai saja hari itu pelajaran selanjutnya juga kosong, mungkin adu mulut itu nggak akan selesai-selesai.
Kring!
Kring!
Kring!
Kring!
Kring!
Bel pertanda pelajaran selanjutnya berbunyi, suasana hati Pak Ustman tampak riang gembira, kelas bersih, rapih, dan wangi banget! (Riku ngorbanin parfumnya buat nutupin bau-bau nggak jelas yang muncul tiba-tiba menyeruak di dalam kelas). Setelah pelajaran sejarah berakhir, mereka diizinkan pulan lebih awal karena adanya rapat guru dadakan.
Tuk!
Riku menendang kaleng kosong di hadapannya sebagai pelampiasan tadi pagi.
“Sudahlah, Riku! Jangan dipikirinlah!” Mai berusaha menenangkan hati Riku, hanya dia satu-satunya yang mampu membuat amarahnya reda.
Hah…
Riku menghela napas panjang.
“Dia itu kekanak-kanakan sekali, sampai kapan dia mau berusaha menjadi dewasa sedkit? Jenius, ya jenius, tapi sifatnya ituloh! Tahu, tidak? Waktu Pak Ustman masuk kelas, dia menjulurkan lidah padaku trus senyum-senyum kayak orang gila!ih! sebal rasanya!”
“Kau benar! Umur udah hampir 18, tapi sikapnya nggak berubah-berubah. Mana fansnya bejibun lagi!” Mai cekikikan.
“Tito bego!! Anak malas!! Laki-laki pecundang!!” teriak Riku dengan wajah memerah kesal, jika ia punya tanduk, maka tanduknya kini berbunyi bak sirine polisi.
“Riku…” ucap Mai pelan, tersenyum geli.
***
bersambung.....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar